October 11, 2006

the end of my song

and now, the end is near; and so i face the final curtain.
my friends, i’ll say it clear, i’ll state my case, of which i’m certain.
i’ve lived a life that’s full. i’ve traveled each and every highway;
and more, much more than this, i did it my way.

regrets, i’ve had a few; but then again, too few to mention.
i did what i had to do and saw it through without exemption.
i planned each charted course; each careful step along the byway,
but more, much more than this, i did it my way.

yes, there were times, i’m sure you knew
when i bit off more than i could chew.

October 09, 2006

kosong

sendiri, kuhitung dinding dengan sudut-sudutnya,
di sana, terbentang meja dan kursi sofa yang empuk —kosong dan dingin,
terpampang lukisan-lukisan indah —tanpa pengagum, diam membisu,
di depan, berjajar meja dan lemari —berdiri kaku,
aku, berbaring di sini, menulis,
ranjang luas ini terasa lembut dan hangat berselimut,
tapi kosong dan sepi..
kamar ini, kosong dan sepi..
hati ini, kosong dan sepi..

Cimahi, 21/09/06

October 04, 2006

day 2 #2

the ground slope,
neddle pine trees surround
the chattering tools, —furnish around
day still high,
    rest inside
        a break, asleep ...

Cimahi, 19/09/06

day 2

i sit in front of the monitor
       watching
           listening
               darkness
                   silence
awaken —in front of the monitor

Cimahi, 19/09/06

September 14, 2006

kehidupan

angin.. kutitipkan bait kepada semesta, bisikkan padanya bahwa aku menyayanginya
dan katakan padanya jangan mengiba ...
ceritakan,
bahwa setiap helai daun yang lahir dari dahanku, melindungimu (bumi) dari panas terik matahari yang membakar
bahwa setiap dahanku yang penuh daun, menyanyikan nina bobo untukmu (bumi) agar engkau terlelap
bahwa setiap cengkraman akar-akarku, memegangmu (bumi) supaya tidak larut dalam air hujan
dan jangan lupa,
bahwa setiap daun-daunku yang berguguran, memberi kehidupan bagimu (bumi) di tanah ini
aku tidak pernah melara,
aku tidak marah atas prahara,
aku tiada hari ini karena esok aku akan ada ...

sebuah komentar untuk [d]emikianlah HIDUP

September 13, 2006

hantu

kusantap makananku pelan-pelan, mestinya kau ada di bangku depanku,
membaca koran sembari menunggu pesananmu datang dan aku menikmati wajahmu diam-diam.

untuk Hantu di Kota Lama, sebuah titipan dari arrive_jkt@yahoo.com © 2006

September 12, 2006

autumn

o danny boy, the pipes, the pipes are calling
from glen to glen, and down the mountain side
the summer's gone, and all the leaves are falling
it's you it's you, must go and I must bide
...
but come ye back, when summer's in the meadow
or when the valley's hushed and white with snow
it's i'll be here, in sunshine or in shadow
o danny boy, o danny boy, i love you so
...


in this month of September, when the summer is gone,
green leaves are turn into yellowish red and falling,
wind is whispering the sad sound of autumn.
....
words are no longer talked and voices are silenced,
faces are faded into the mist of the past,
acts became memoirs and turn into history.

try to remember when life was so tender
that no one wept except the willow
try to remember when life was so tender
that dreams were kept beside your pillow
....


September 08, 2006

saling silang

88 kata yang
saling silang
dalam setiap
sel otakku,
menjadi satu
dalam pikir
dan rasa,
jadikan aku
seperti satu
bangun yang
ber-teka-teki
dan berbatas
dengan sisi
bangun kotak
yang suatu
saat nanti
tak ada lagi
kata-kata
yang bisa
dimasukkan.

September 06, 2006

satu malam

aku duduk di tepi ranjang, menatap ke belakang
terlelap dalam tidur, seorang yang masih asing dalam ingatanku
teringat perkenalan kita, yang hanya sebatas nama
namun begitu indah sesaat tadi

aku juga lelah, kubaringkan badan ini di sisimu
terdiam, kutatap langit-langit kamarmu
deru nafasmu yang kudengar, tidak kurasakan
akan terlupakan setelah aku tertidur

kini sudah pagi, sinar matahari menerpa wajah
membangunkan aku dari mimpi indah satu malam

September 05, 2006

herbsttag - autumn


herr: es ist zeit. der sommer war seht groß.
leg deinen schatten auf die sonnenuhren,
und auf den fluren laß die winde los.

befiehl den letzten früchten voll zu sein;
gieb ihnen noch zwei südlichere tage,
dränge sie zur vollendung hin und jage
die letzte süße in den schweren wein.

wer jetzt kein haus hat, baut sich keines mehr.
wer jetzt allein ist, wird es lange bleiben,
wird wachen, lesen, lange briefe schreiben
und wird in den alleen hin und her
unruhig wandern, wenn die blätter treiben.
lord: it is time. the summer was immense.
let thine shadows upon the sundials fall,
and unleash the winds upon the open fields.

command the last fruits into fullness;
give them just two more ripe, southern days,
urge them into completion and press
the last bit of sweetness into the heavy wine.

he who has no house now, will no longer build.
he who is alone now, will remain alone,
will awake in the night, read, write long letters,
and will wander restlessly along the avenues,
back and forth, as the leaves begin to blow.

Rainer Maria Rilke, 1902
bersambung ...

September 04, 2006

meledak

hari Sabtu, 02 September 2006 malam, di kamarku:
aku MELEDAK!!!...
aku ledakkan semua kekesalan dan kemarahan
yang sudah aku timbun berhari-hari bahkan dalam hitungan minggu
aku hanya merasa orang-orang di sekitarku tidak mengerti:
tidak merasa apa yang aku rasakan, tidak tahu apa yang aku pikirkan,
tidak mengerti jalan pikiranku, TIDAK ADIL!!!

hari Sabtu, 02 September 2006 malam, di kamarku: aku meledak... titik!

September 01, 2006

gundah

nilai - hakim : penilaian - penghakiman

aku hanya orang yang mencoba tidak menghakimi perbuatan orang lain
(karena aku tahu bahwa hakim atas manusia cuma Sang Pencipta),
tapi apakah dengan memberi nilai aku sudah menghakimi orang lain?

aku menilai dia jahat, bukankah sama saja dengan menghakimi dia (jahat)?
aku menilai dia baik, bukankah sama saja dengan menghakimi dia baik (karena dia tidak jahat)?

aku bukan orang benar yang boleh tidak membenarkan orang lain,
aku bukan orang suci yang boleh menistakan orang lain,
aku bukan orang taqwa yang boleh dibandingkan dengan orang lain,

August 31, 2006

tanya dan jawab

kantor sepi seperti biasa di pagi hari.
yang ada hanya deru udara dingin dari chiller gedung.
freezing... killing... so cold that i think i've lost my hands.
buka blog, ada pr?!? baru kali ini semenjak ngga kuliah lagi, ada pr. phuhh...

01. start time: 09.50
02. name: cun / guntur / ...
03.
04. astrology sign: sagi & single (hue.hue.hue.hue...)
05. gender: male
06. hair color: multi color - hitam, coklat terbakar, coklat susu, orannye, silver dan abu-abu
07.

August 11, 2006

ode in august

melewati hari
tanpa menghitung pagi
aku berlari tanpa henti
kala umur masih diberi
takkan pernah aku berhenti
dan tetap berlari

dua tahun sudah terhenti
sebuah kisah tentang diri
seorang adik kekasih hati
yang pergi ke negeri
di mana semua kisah berhenti
dan kata-kata menjadi tiada arti

jaga diri baik-baik di negeri sana ...

March 08, 2006

gado-gado in my mind

aku sore ini begitu lelah, mungkin karena secara fisik tidak fit dan secara mental juga sedang lelah. aku lelah dengan pikiranku sendiri yang silih berganti datang dan pergi, masing-masing membawa cerita yang berbeda-beda, tentang aku, kamu, dia, dan mereka. begitu banyak, walau itu semua hanya buah pikiran, tapi melelahkan. aku hampir fade out tadi, karena mungkin otakku sudah lelah. lelah berpikir, lelah memikirkan, lelah menjadi otakku. ada yang mau otakku? aku hanya lelah dan lelah, berharap 'rumpun bambu' ini bisa menjadi tempat aku mengadu, berteduh, merenung dan memilah-milah pikiranku, menatanya supaya tidak memberatkan otakku. kasihan dia.

aku lelah ...

sebuah nama

blog ini yang awalnya aku buat sebagai tempat menumpahkan segala rasa kesal dan sedih, perasaan tentang seseorang yang dekat di hatiku (hingga kini masih dan akan terus), yang kupersembahkan untuk dia yang tidak suka membaca, karena aku sulit berucap dalam mulut tapi mudah dalam kalimat, kini menjadi 'rumpun bambu' tempat aku bermain di waktu kecil, tempat di mana rasa takut dan ingin tahu menjadi satu, tempat di mana angin bergemerisik melalui dedauan dan membawa aroma bambu yang khas, sebuah tempat di mana waktu bercerita dalam nyanyian angin, kisah demi kisah.